TUGAS
FISIOLOGI
HEWAN
TENTANG
TERMOREGULASI
KELOMPOK
3, SESI C
1.
NILA
SILVIA (15010096)
2.
TRISA
HARDINI (15010075)
3.
DILA
SAVINA (15010087)
DOSEN
PEMBIMBING : MIMIN M. ZURAL, S.Pd., M.Pd
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
SEKOLAH
TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
(STKIP)
SUMATERA BARAT
PADANG
2017
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada Hewan
Pengaruh suhu pada lingkungan, hewan dibagi menjadi dua golongan, yaitu
Poikiloterm dan Homoiterm. Poikiloterm suhu tubuhnya dipengaruhi oleh
lingkungan. Suhu tubuh bagian dalam lebih tinggi dibandingkan dengan suhu tubuh
luar. Hewan seperti ini juga disebut hewan berdarah dingin. Yang termasuk dalam
poikiloterm adalah bangsa Ikan, Reptil, dan Amfibi. Dan hewan homoiterm sering
disebut hewan berdarah panas karena dapat menjaga suhu tubuhnya. Hewan yang
termasuk dalam homoiterm adalah bangsa Aves dan Mamalia.
Suhu tubuh
tergantung pada neraca keseimbangan antara panas yang diproduksi atau
diabsorbsi dengan panas yang hilang. Panas yang hilang dapat berlangsung secara
radiasi, konveksi, konduksi dan evaporasi. Radiasi adalah transfer energi
secara elektromagnetik, tidak memerlukan medium untuk merambat dengan kecepatan
cahaya. Konduksi merupakan transfer panas secara langsung antara dua materi
padat yang berhubungan lansung tanpa ada transfer panas molekul. Panas menjalar
dari yang suhunya tinggi kebagian yang memiliki suhu yang lebih rendah.
Konveksi adalah suatu perambatan panas melalui aliran cairan atau gas. Besarnya
konveksi tergantung pada luas kontak dan perbedaan suhu. Evaporasi merupakan
konveksi dari zat cair menjadi uap air, besarnya laju konveksi kehilangan panas
karena evaporasi.
Termoregulasi
adalah suatu mekanisme makhluk hidup untuk mempertahankan suhu internal agar
berada di dalam kisaran yang dapat ditolelir. Proses yang terjadi pada hewan
untuk mengatur suhu tubuhnya agar tetap konstan dinamis. Mekanisme
Termoregulasi terjadi dengan mengatur keseimbangan antara perolehan panas
dengan pelepasan panas. Termoregulasi manusia berpusat pada hypothalamus
anterior terdapat tiga komponen pengatur atau penyusun sistem pengaturan panas,
yaitu termoreseptor, hypothalamus, dan saraf eferen serta termoregulasi dapat
menjaga suhu tubuhnya, pada suhu-suhu tertentu yang konstan biasanya lebih
tinggi dibandingkan lingkungan sekitarnya
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana
Konsep dan Kepentingan Termoregulasi
2. Bagaimana
Konsep Endotermik, Ektotermik, Poikilotermik, Homeotermik dan Heterotermik
3. Apa
saja Faktor Yang Cenderung Menambah dan Mengurangi Panas
4. Apa
itu Termokonfermer dan Termoregulator
5. Bagaimana Mekanisme Pengendalian Produksi dan
Pertukaran Panas
6. Bagaimana
Mekanisme Pengontrolan Suhu Tubuh
7. Bagaimana
Konsep Zona Suhu Netral, Regulasi
Metabolik, Regulasi Fisik, Hypotermia dan Hypertermia
8. Apa
Prinsip Termogenesis
9. Bagaimana
Konsep Suhu Letal dan Kaitan Kematian dengan Suhu Letal
10. Bagaimana
Dormansi : Tidur, Dormansi, Torpor, Hibernasi dan Estivasi
C. Tujuan Pembelajaran
1. Untuk
Mengetahui Konsep dan Kepentingan Termoregulasi
2. Untuk
Mengetahui Konsep Endotermik, Ektotermik, Poikilotermik, Homeotermik dan
Heterotermik
3. Untuk
Mengetahui Faktor Yang Cenderung Menambah dan Mengurangi Panas
4. Untuk
Mengetahui Termokonfermer dan Termoregulator
5. Untuk
Mengetahui Mekanisme Pengendalian Produksi dan Pertukaran Panas
6. Untuk
Mengetahui Mekanisme Pengontrolan Suhu Tubuh
7. Untuk
Mengetahui Konsep Zona Suhu Netral, Regulasi
Metabolik, Regulasi Fisik, Hypotermia dan Hypertermia
8. Untuk
Mengetahui Prinsip Termogenesis
9. Untuk
Mengetahui Konsep Suhu Letal dan Kaitan Kematian dengan Suhu Letal
10. Untuk
Mengetahui Dormansi : Tidur, Dormansi, Torpor, Hibernasi dan Estivasi
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Konsep dan Kepentingan
Termoregulasi
Termoregulasi
adalah pemeliharaan suhu tubuh di dalam suhu kisaran yang membuat sel-sel mampu
berfungsi secara efisien. Sebagian besar hewan dapat bertahan hidup menghadapi fruktuasi
lingkungan eksternal yang lebih ekstrim dibandingkan dengan keadaan yang sangat
ditolerir oleh setiap individu selnya. Meskipun spesies hewan yang berbeda
telah diadaptasikan terhadap kisaran suhu yang berbeda-beda, setiap hewan
mempunyai kisaran suhu yang optimum. Didalam kisaran tersebut banyak
hewan dapat mempertahankan suhu internal yang konstan meskipun suhu
eksternalnya berfruktuasi (Campbell 2004 : 99-100).
Termoregulasi adalah suatu mekanisme
makhluk hidup untuk mempertahankan suhu internal agar berada di dalam kisaran
yang dapat ditolelir. Proses yang terjadi pada hewan untuk mengatur suhu
tubuhnya agar tetap konstan dinamis. Mekanisme Termoregulasi terjadi dengan
mengatur keseimbangan antara perolehan panas dengan pelepasan panas. Termoregulasi
manusia berpusat pada hypothalamus anterior terdapat tiga komponen pengatur
atau penyusun sistem pengaturan panas, yaitu termoreseptor, hypothalamus, dan
saraf eferen serta termoregulasi dapat menjaga suhu tubuhnya, pada suhu-suhu
tertentu yang konstan biasanya lebih tinggi dibandingkan lingkungan sekitarnya (Soewolo, 2000: 322-323).
Sistem termoregulasi berfungsi untuk
menjaga keseimbangan energi panas yang masuk dan energi panas yang terbuang
sehingga mencapai temperatur yang mendekati konstan. Fungsi utama sistem
termoregulasi yaitu berperan penting dalam homeostasis, dimana homeostasis
merupakan upaya penyesuaian neuroendokrin dalam mempertahankan kestabilan
fisiologi (Soewolo, 2000: 322-323).
B. Konsep Endotermik, Ektotermik,
Poikilotermik, Homeotermik dan Heterotermik
1. Hewan
ektotermik
Hewan ektotermi merupakan hewan yang
yang suhu tubuhnya selalu berubah seiring dengan berubahnya suhu lingkungan.
Hewan ini memperoleh sebagian besar panasnya dari sumber-sumber eksternal.
Contoh: amphibia, kadal, ular, dan ikan.
2. Hewan
endotermik
Hewan endotermi merupakn hewan yang suhu
tubuhnya selalu konstan sekalipun suhu lingkungan sangat berubah. Hewan ini
tubuhnya dihangatkan oleh panas yang dihasilkan dari metabolisme, sehingga
hewan ini akan tetap mempertahankan suhu tubuhnya dalam keadaan yang stabil
meskipun suhu dilingkungan fluktuatif. Contohnya: burung, dan mammalia.
3. Termoregulasi
Pada Hewan Poikilotermik
Suhu tubuh hewan poikilotermik
ditentukan oleh keseimbangannya dengan kondisi suhu lingkungannya, dan berubah
seperti berubah-ubahnya suhu lingkungan. Pada hewan poikiloterm air, misalnya
kerang, udang, dan ikan, suhu tubuhnya sangat ditentukan oleh keseimbangan
konduktif dan konvektif dengan air mediumnya, dan suhu tubuhnya mirip suhu air.
Hewan memproduksi panas internal secara metabolik, dan ini mungkin meningkatkan
suhu tubuh di atas suhu air. Namun air menyerap panas begitu efektif dan hewan
poikilotermik tidak memiliki insulasi sehingga perbedaan suhu hewan dengan air
sangat kecil (Soewolo, 2000 : 331).
Pada hewan poikilotermik darat, misalnya
katak, keong dan serangga, suhu tubuhnya dapat lebih mendekati suhu udara
lingkungan. Input radiasi panas dari matahari atau sumber lain mungkin
meningkatkan suhu tubuh di atas suhu lingkungan, dan penguapan air melalui
kulit dan organ-organ respiratori menekan suhu tubuh beberapa derajat di bawah
suhu lingkungan (Soewolo, 2000 : 331).
Hewan darat dapat memelihara
keseimbangann tubuh dengan mengurangi penguapan dan kehilangan panas lewat
konduksi dan memaksimalkan penambahan panas melalui radiasi dan panas
metabolik. Sianar matahari digunakan oleh serangga dan reptil sebagai sumber
eksternal tubuhnya. Untuk meningkatkan jumlah panas yang dapat diserap, hewan
tergantung pada warna tubuh dan orientasinya relatif terhadap matahari. Banyak
hewan yang dapat merubah warna kulitnya melalui penyebaran dan kontraksi
sel-sel pigmen hitam pada kulitnya. Karena hampir separuh energi matahari
berada dalam cahaya tampak, kulit berwarana gelap akan menyerap energi panas
matahri daripada berwarna cerah (Soewolo, 2000 : 332).
4. Termoregulasi
Pada Hewan Homeotermik.
Hewan homeoterm mempunyai suhu tubuh
yang konstan pada berbagai suhu lingkungan yang berubah-ubah. Kebnyakan burung
dan mamalia dan lingkungannya yang normal akan mempertahankan suhu tubuhnya di
atas duhu lingkungannya. Suhu bagian dalam mamalia umunya berkisar antara
37-40o C, sedangkan golongan burung mempunyai suhu tubuh sedikit lebih tinggi
yaitu 41-42,5o C. Kondisi homeotermik menyangkut keseimbangan yang serasi antar
dua faktor, yaitu:
a. Produksi
panas
b. Kehilangan
panas (Soewolo, 2000 : 333).
Laju
produksi panas dan kehilangan panas pada hewan sangat bervariasi, tergantung
pada kondisi lingkungannya (panas, dingin), aktivitasnya (diam, aktif). Untuk
memelihara keseimbanagn suhu tersebut, hewan homeoterm melakukan regulasi
kimiawi dan regulasi fisik. Regulasi kimiawi menyangkut produksi panas
metabolik, sedangkan regulasi fisik menyangkut kegiatan fisik untuk
memodifikasi kehilangan panas (Soewolo, 2000 : 333).
5. Termoregulasi
Pada Hewan Heterotermik
Heterotermik adalah hewan yang mampu
memproduksi panas endotermik dalam berbagai tingkat, tetapi umumnya tidak
meregulasi suhu tubuhnya dalam rentangan pendek. Heterotermik mungkin dapat
dibedakan menjadi dua kelompok: heterotermik temporal dan heterotermik
regional. Heterotermik temporal merupakan suatu kategori yang luas, dimana suhu
tubuh hewan dapat berbeda setiap saat, misalnya terdapat pada serangga terbang,
phyton dan beberapa ikan, yang dapat meningkatkan suhu tubuh di atas suhu
lingkungan dengan sifat panas yang dibangkitkan sebagai suatu hasil yang
melibatkan aktivitas otot. Sedangkan heterotermik regional sebenarnya adalah
poikilotermik seperti teleostei besar yang dapat mncapai suhu tubuh dalam (suhu
jaringan dalam) cukup tinggi melalui aktivitas otot, sementara jaringan
periferal dan ekstremitas mendekati suhu lingkungannya. Contoh pada ikan hiu,
tuna dan pada serangga terbang (Soewolo, 2000 : 339).
C. Faktor Yang Cenderung Menambah dan
Mengurangi Panas
Suhu tubuh hewan tergantung pada
keseimbangan antara faktor yang cenderung menambah panas dan faktor yang
cenderung mengurangi panas. Panas dapat diperoleh (bertambah) dengan:
1. Termogenesis
metabolik (endotermi)
2. Abrsopsi
panas yang berasal dari lingkungan luar (ektotermi) yang sebagian besar berasal
dari radiasi matahari (Dian Meutia Putry, 2011. Pdf).
Panas dapat hilang (berkurang) karena
radiasi, konveksi, konduksi, dan penguapan air. Kehilangan panas dapat
dipercepat oleh aliran cairan tubuh, dan dihambat oleh isolasi. Suhu tubuh
dihasilkan dari :
1. Laju
metabolisme basal (basal metabolisme rate), BMR
2. Laju
cadangan metabolisme yang disebabkan aktivitas otot (termasuk kontraksi otot
akibat menggigil)
3. Metabolisme
tambahan akibat pengaruh hormon tiroksin dan sebagian kecil hormon
lain, misalnya hormon pertumbuhan (growth hormone dan testosteron)
4. Metabolisme
tambahan akibat pengaruh epineprine, norepineprine, dan rangsangan simpatis
pada sel
5. Metabolisme
tambahan akibat peningkatan aktivitas kimiawi di dalam sel itu sendiri terutama
bila temperatur menurun (Dian Meutia Putry, 2011. Pdf).
Suhu
tubuh di pengaruhi oleh faktor-faktor antara lain meliputi; kecepatan
metabolisme basal tiap individu, rangsangan saraf simpatis, hormone pertumbuhan
(growth hormone), hormone tiroid, hormone kelamin, gangguan organ, lingkungan
tempat kerja, dan lain-lain.
1. Kecepatan
metabolisme basal
Kecepatan metabolisme basal tiap
individu berbeda-beda. Hal ini memberi dampak jumlah panas yang diproduksi
tubuh menjadi berbeda pula. Sebagaimana disebutkan pada uraian sebelumnya,
sangat terkait dengan laju metabolisme.
2. Rangsangan
saraf simpatis
Rangsangan saraf simpatis dapat
menyebabkan kecepatan metabolisme menjadi 100% lebih cepat. Disamping itu,
rangsangan saraf simpatis dapat mencegah lemak coklat yang tertimbun dalam
jaringan untuk dimetabolisme. Hampir seluruh metabolisme lemak coklat adalah
produksi panas. Umumnya, rangsangan saraf simpatis ini dipengaruhi stress
individu yang menyebabkan peningkatan produksi epineprin dan norepineprin yang
meningkatkan metabolisme.
3. Hormone
pertumbuhan
Hormone pertumbuhan (growth hormone)
dapat menyebabkan peningkatan kecepatan metabolisme sebesar 15-20%. Akibatnya,
produksi panas tubuh juga meningkat.
4. Hormone
tiroid
Fungsi tiroksin adalah meningkatkan
aktivitas hampir semua reaksi kimia dalam tubuh sehingga peningkatan kadar tiroksin
dapat mempengaruhi laju metabolisme menjadi 50-100% diatas normal.
5. Hormone
kelamin
Hormone kelamin pria dapat meningkatkan
kecepatan metabolisme basal kira-kira 10-15% kecepatan normal, menyebabkan
peningkatan produksi panas. Pada perempuan, fluktuasi suhu lebih bervariasi
dari pada laki-laki karena pengeluaran hormone progesterone pada masa ovulasi
meningkatkan suhu tubuh sekitar 0,3 – 0,6°C di atas suhu basal.
6. Gangguan
organ
Kerusakan organ seperti trauma atau
keganasan pada hipotalamus, dapat menyebabkan mekanisme regulasi suhu tubuh
mengalami gangguan. Berbagai zat pirogen yang dikeluarkan pada saai terjadi
infeksi dapat merangsang peningkatan suhu tubuh. Kelainan kulit berupa jumlah
kelenjar keringat yang sedikit juga dapat menyebabkan mekanisme pengaturan suhu
tubuh terganggu.
7. Lingkungan
Suhu tubuh dapat mengalami pertukaran dengan
lingkungan, artinya panas tubuh dapat hilang atau berkurang akibat lingkungan
yang lebih dingin. Begitu juga sebaliknya, lingkungan dapat mempengaruhi suhu
tubuh manusia. Perpindahan suhu antara manusia dan lingkungan terjadi sebagian
besar melalui kulit (Dian Meutia Putry, 2011. Pdf).
Proses
kehilangan panas melalui kulit dimungkinkan karena panas diedarkan melalui
pembuluh darah dan juga disuplai langsung ke fleksus arteri kecil melalui
anastomosis arteriovenosa yang mengandung banyak otot. Kecepatan aliran dalam
fleksus arteriovenosa yang cukup tinggi (kadang mencapai 30% total curah
jantung) akan menyebabkan konduksi panas dari inti tubuh ke kulit menjadi
sangat efisien. Dengan demikian, kulit merupakan radiator panas yang efektif
untuk keseimbangan suhu tubuh (Dian Meutia Putry, 2011. Pdf).
Pengaturan
suhu tubuh (termoregulasi), pengaturan cairan tubuh, dan ekskresi adalah
elemen-elemen dari homeostasis. Homeostatis : suhu tubuh tidak mengalami
perubahan terlalu besar. Suhu tubuh yang konstan sangat dibutuhkan hewan,
karena :
1. Reaksi
enzimatis bergantung pada suhu
Aktivitas
metabolisme bergantung pada kemampuan untuk mempertahankan suhu yang sesuai
pada suhu tubuhnya. Suhu tubuh terdiri atas suhu inti konstan dan suhu
permukaan berubah-ubah. Kehilangan Panas:
1. Suhu
kulit lebih tinggi dari suhu lingkungan panas dibuang dengan cara Radiasi dan
Konduksi
2. Suhu
kulit lebih rendah dari suhu lingkungan panas masuk tubuh dengan cara Radiasi
dan konveksi (Dian Meutia Putry, 2011. Pdf).
Suhu
tubuh hewan, endoterm dan ektoterrn tergantung pada jumlah panas (kalori) per
unit masa jaringan. Jaringan terdiri terutama atas air, sehingga kapasitas
panas jaringan antara 0o – 40o C kira-kira 1,0 kalori per 0 C
per gram. Berarti makin luas hewan makin besar panas tubuh
menentukan suhu hewan. Kecepatan perubahan panas tubuh tergantung pada:
1. Kecepatan
produksi panas melalui aktivitas metabolic
2. Kecepatan
penambahan panas
D. Termokonformer dan Termoregulator
Pengelompokkan hewan berdasarkan
kemampuannya mempertahankan suhu tubuh yang konstan, yaitu :
1. Termokonformer
Poikiloterm
(hewan berdarah dingin), ektoterm atau konformer suhu
a. Hewan
yang tidak mampu mempertahankan suhu tubuhnya
b. Suhu
tubuh hewan berfluktuasi sesuai dengan suhu lingkungannya
c. Sebetulnya
suhu tubuh tidakbetul-betul sama dengan suhu lingkungan, sebab kalau diukur
teliti, suhu selnya sedikit diatas suhu lingkungannya
d. Menghadapi
fluktuasi suhu lingkungan, hewan poikilotermik melakukan konformitas suhu. Laju
kehilangan panas pada hewan poikilotermik lebih tinggi daripada laju produksi
panas, sehingga suhu tubuhnya lebih ditentukan oleh suhu lingkungan
eksternalnya daripada suhu metabolisme internalnya
e. Contoh
: pisces, amphibi, reptilia (Winatasasmita, 1986).
2. Termoregulator
Homoeoterm
(hewan berdarah panas), endoterm atau regulator suhu
a. Hewan
yang mampu mempertahankan suhu tubuhnya
b. Menghadapi
suhu lingkungan, hewan homoeoterm melakukan regulasi suhu, suhu tubuhnya konstan
walaupun suhu lingkungannya mengalami fruktuasi (sampai batas-batas tertentu).
Kehilangan panas lebih sedikit dibandingkan dengan laju produksi panas
internalnya, sehingga suhu tubuhnya lebih ditentukan oleh produksi panas
internalnya
c. Contoh
: aves dan mamalia (Winatasasmita, 1986).
E. Mekanisme Pengendalian Produksi dan
Pertukaran Panas
Perpindahan
energi termal (panas) terjadi melalui bebrapa mekanisme, antara lain:
1. Konveksi
Konveksi adalah perpindahan panas
melalui pergerakan zat cair atau gas. Makhluk hidup mengalami pemindahan panas
dari tubuh dengan arus udara konveksi yang biasa disebut kehilangan panas
secara konveksi. Panas berpindah dari kulit ke udara dan kemudian terbawa oleh
arus udara konveksi. Orang yang duduk telanjang di kamar yang nyaman tanpa
gerakan udara kotor, sekitar 15% dari total kehilangan panas tubuhnya terjadi
dengan konduksi ke udara dan kemudian dengan konveksi udara dari badan. Ketika
tubuh terkena angin, lapisan udara yang berdekatan dengan kulit digantikan oleh
udara baru, pergerakannya jauh lebih cepat dari biasanya, dan kehilangan
(pelepasan) panas secara konveksi meningkat. Efek pendinginan dari angin
sekitar dengan kecepatan rendah sebanding dengan akar kuadrat dari
kecepatan angin (Kuntarti. Pdf).
2. Konduksi
Konduksi panas merupakan perpindahan
panas anatara dua bagian secara kontak fisik langsung diantara keduanya. Laju
pergerakan panas ditentukan ditentukan oleh beberapa faktor yaitu wilayah terjadinya
pergerakan panas, perbedaan suhu awal antara kedua wilayah, konduktivitas panas
pada wilayah tersebut. Konduksi panas dari tubuh dengan dengan benda padat
seperti kursi atau tempat tidur hanya berkisar 3%. Kehilangan panas tubuh ke
udara dengan konduksi dapat mencapai 15% (Kuntarti. Pdf).
Panas merupakan energi kinetik dari
molekul yang bergerak, dan molekul-molekul kulit terus bergerak (getaran).
Sebagian besar energi gerak tersebut dilepaskan ke udara jikia udara
dilingkungan lebih dingin atau rendah. Akibat dari pelepasan energi ini
pergerakan molekul udara semakin cepat dan semakin banyak energi yang
dilepaskan. Pada saaat suhu udara dilingkungan sama dengan suhu kulit, tidak
ada lagi perpindahan panas dari kulit ke udara sekitar karena udara dan tubuh
memiliki suhu yang sama (Kuntarti. Pdf).
Memakai media padat, harus ada kontak
antar molekul, contoh : transfer melalui kulit dan otot. Contoh : Tindakan
mengkompres adalah upaya untuk menurunkan demam melalui konduksi. Bahan yang
digunakan untuk mengkompres harus lebih dingin dari suhu tubuh (Kuntarti. Pdf).
3. Radiasi
Radiasi adalah perpindahan panas tanpa
adanya kontak langsung antara sumber panas dengan daerah penerima. Pada orang
yang duduk telanjang di dalam ruangan pada suhu kamar normal, dia akan
kehilangan sekitar 60% dari total kehilangan panas dengan cara radiasi.
Kehilangan panas melalui radiasi berarti kehilangan panas dalam bentuk sinar
inframerah, jenis gelombang elektromagnetik. Kebanyakan panas sinar
inframerah yang memancar dari tubuh memiliki panjang gelombang dari 5 hingga 20
mikrometer, 10 sampai 30 kali panjang gelombang sinar cahaya. Semua benda yang
tidak pada suhu nol mutlak memancarkan sinar tersebut. Tubuh manusia
memancarkan sinar panas ke segala arah dan sinar panas juga terpancar dari
dinding kamar dan benda-benda lain ke arah tubuh. Jika suhu tubuh lebih tinggi
dari suhu lingkungan, maka kuantitas yang panas yang terpancarakan dari dalam
tubuh lebih tinggi dibandingkan panas yang dipancarkan tubuh lingkungan
(Kuntarti. Pdf).
4. Evaporasi
Ketika air menguap dari permukaan tubuh,
dan untuk menguapkan air satu gram dibutuhkan 0,85 kalori energi panas. Ketika
seseorang tidak sedang berkeringat, tanpa kita sadari air masih menguap dari
kulit dan paru-paru berkisar antara 600 sampai 700ml/hari. Hal ini menyebabkan
kehilangan panas terus menerus dengan kecepatan 16 sampai 19 kalori per jam.
Penguapan yang melalui kulit dan paru-paru ini tidak dapat dikendalikan untuk
tujuan pengaturan suhu, karena terjadinya difusi terus-menerus molekul air
melalui kulit dan permukaan pernapasan (Kuntarti. Pdf).
Selama suhu kulit lebih tinggi dari suhu
lingkungan, panas dapat hilang oleh radiasi dan konduksi. Tapi ketika suhu
lingkungan menjadi lebih tinggi dari suhu kulit, tubuh akan mendapatkan panas
melalui radiasi dan konduksi dari lingkungan. Dalam kondisi seperti ini,
satu-satunya mekanisme yang dapat dilakukan tubuh untuk mempertahankan
suhu tubuh akibat masuknya panas dari lingkungan adalah melalui penguapan
(Kuntarti. Pdf).
F.
Mekanisme
Pengontrolan Suhu Tubuh
Mengelola kondisi suhu lingkungan
internal merupakan tantangan besar tubuh hewan. Hewan berhadapan dengan
fluktuasi suhu lingkungan. Pengelolaan itu dengan tujuan untuk berada pada
keadaan yang mendukung kelangsungan hidup makhluk hidup, tak terkecuali dengan
manusia. Keseimbangan suhu tubuh manusia diatur oleh mekanisme fisiologis dan
perilaku. Temoregulasi (thermoregulation) adalah proses penjagaan suhu internal
hewan dalam kisaran yang dapat ditoleransi. Termoregulasi sangat penting karena
sebagian besar proses kimiawi dan fisiologis sangat sensitif terhadap perubahan
suhu. Dalam mencapai homeostatis, hewan mempertahankan kondisi lingkungan
internalnya dalam keadaan relatif konstan bahkan ketika lingkungan eksternalnya
berubah secara signifikan (Nugroho, 2014. Pdf).
Seperti kebanyakan hewan, manusia juga
menunjukan homeostatis untuk menjaga sejumlah kondisi fisik dan kimia. Suhu
tubuh cenderung berfluktuasi setiap saat. Banyak faktor yang dapat menyebabkan
fluktuasi suhu tubuh. Untuk mempertahankan suhu tubuh dalam keaadaan konstan,
diperlukan regulasi suhu tubuh. Suhu tubuh diatur dengan mekanisme umpan balik
(feed back) yang diperankan oleh pusat pengaturan suhu di hipotalamus. Apabila
pusat hipotalamus mendeteksi suhu tubuh yang terlalu panas, tubuh akan
melakukan umpan balik. Mekanisme umpan balik ini terjadi bila suhu inti tubuh
telah melewati batas toleransi tubuh untuk mempertahankan suhu, yang disebut
titip tetap. Titik tetap tubuh dipertahankan agar suhu tubuh konstan pada 37°C
(Nugroho, 2014. Pdf).
Mekanisme pengaturan suhu tubuh
merupakan penggabungan fungsi dari organ-organ tubuh yang saling berhubungan.
Didalam pengaturan suhu tubuh mamalia terdapat dua jenis sensor pengatur suhu,
yaitu sensor panas dan sensor dingin yang berbeda tempat dengan jaringan
sekeliling (penerima di luar) dan jaringan inti (penerima didalam) dari tubuh
dari kedua jenis sensor ini, isyarat yang diterima langsung dikirim ke sistem
saraf pusat dan kemudian dikirim ke sistem saraf motorik yang mengatur pengeluaran
panas dan produksi panas untuk dilanjutkan ke jantung, paru-paru dan seluruh
tubuh. Setelah itu terjadi umpan balik, dimana isyarat diterima kembali oleh
sensor panas dan sensor dingin melalui peredaran darah (Nugroho, 2014. Pdf).
G. Konsep Zona Suhu Netral,
Regulasi Metabolik, Regulasi Fisik,
Hypotermia dan Hypertermia
Hewan homoeterm mempunyai suhu tubuh
yang konstan pada berbagai suhu lingkungan yang berubah-ubah. Pada bangsa
mamalia dan bangsa burung di suhu lingkungan yang normal, suhu tubuhnya akan
dipertahankan berada di atas suhu lingkungannya. Pada bangsa mamalia berkisar
antara 37-400 C, dan pada bangsa burung sekitar 41-42,50 C. Laju produksi
panas, (termogenesis) dan pelepasan panasnya tergantung kondisi lingkungannya
(panas atau dingin), dan aktifitasnya (aktif atau diam). Untuk menjaga
kestabilan (steady state) suhu tubuhnya, hewan homoeterm melakukan regulasi
secara kimiawi (metabolism) dan secara fisik (gemetar, berkeringat atau
evaporasi) (Kuntarti. Pdf).
Bila hewan homoeterm pada suhu lingkungan
yang ekstrim, maka aktifitas termogulasi untuk menjaga kestabilan suhu tubuhnya
akan meningkat sejalan dengan perubahan suhu lingkungan yang ekstrim tersebut.
Pada kondisi rentangan suhu lingkungan yang moderat (disebut zona suhu neutral
atau thermoneutral zone), kecepatan produksi panas berlangsung seimbang dengan
kehilangan panas ke lingkungannya, dengan cara mengatur hantaran panas ke
permukaan tubuhnya, seperti respon vasomotor, perubahan postur tubuh, regulasi
pilomotor, dan efektifitas insulasi bulu atau rambut (Kuntarti. Pdf).
Bila suhu lingkungan diturunkan maka
hewan homoeterm akan merespons dengan berbagai reflex yang cenderung
mengkonversi panas, dengan cara penyempitan pembuluh darah (vasokonstriksi),
mengecilkan permukaan tubuh yang bersinggungan dengan udara, mendirikan rambut
atau bulu dan cara lainnya. Di bawah suhu neutral ini hewan homoeterm akan
meningkatkan produksi panas untuk mengimbangi kehilangan panas ke
lingkungannya. Produksi panas ini akan meningkat secara linier dengan penurunan
suhu sampai di batas suhu kritis bawah, yang merupakan suhu terendah dimana
hewan homoeterm masih dapat mempertahankan suhu rectal normal selama satu jam.
Antara zona suhu neutral dengan suhu kritis bawah disebut zona regulasi
metabolic. Bila suhu turun sampai dibawah suhu kritis bawah yang disebut zona
hipotermia, maka mekanisme regulasi akan mengalami kegagalan, kecepatan
metabolism akan menurun, menyebabkan tubuh hewan homoetermi akan mendingin dan
tidak dapat mengimbangi terhadap turunnya suhu lingkungan dan akibatnya hewan
akan mati (Kuntarti. Pdf).
Bila suhu lingkungan naik melebihi suhu
neutral sampai batas suhu kritis atas, maka hewan homoeterm akan
cenderung melepaskan panas dengan respons reflex seperti pelebaran pembuluh
darah (vasodilatasi), peningkatan penguapan atau evaporasi atau dengan kontrol
prilaku, seperti berpindah ke tempat yang teduh, masuk kedalam air, mandi pasir
dan sebagainya. Antara zona suhu neutral dengan suhu kritis atau disebut zona
regulasi fisik. Di atas zona regulasi fisik, di sebut zona hipertermia,
pelepasan panas oleh hewan homoetermi tidak dapat mengimbangi naiknya suhu
lingkungan, sehingga terjadi evaporasi yang berlebihan dan hewan akan mengalami
hipovolemia (kekurangan cairan tubuh) dan akan mati. Pada manusia dikenal
dengan istilah heat stroke (Kuntarti. Pdf).
H. Prinsip Termogenesis
Bila suhu lingkungan turun sampai
dibawah suhu kritis bawah, hewan endotermik melindungi penurunan suhu pusat
tubuhnya dengan memproduksi panas tambahan dari simpanan energi. Produksi panas tambahan memili dua arti yaitu
termogenesis menggigil dan termogenesis non-menggigil (Soewolo, 2000 : 336).
Termogenesis menggigil berperan
penting pada aklimasi mamalia pada suhu
rendah, dan bangun dari hibernasi atau bermalasan. Tikus yang diaklimasikan
pada suhu 300C, pemanasan dengan bergerak dapat mengganti
termogenesismenggigil sebagai sumber panas pada suhu lingkungan diatas 100C,
tetapi pada suhu dibawah 100C, jumlah panas yang diproduksi
terus-menerus melalui pemanasan. Tidak cukup menggantikan panas yang hilang, sehingga
menghasilkan keaada hipotermia. Bila diaklimasikan pada 60C, tingkat
termogenesis non-menggigil akan meningkat secara nyata dan menekan pada
pemanasan, dapat mengganti menggigil sebagai suatu sumber panas sampai suhu
lingkungan serendah -200C. Hal ini menunjukkan bahwa kapasitas untuk
termogenesis non-menggigil diperlukan selama aklimasi terhadap dingin,
memungkinkan tikus tetap aktif pada suhu lebih rendah daripada senadainya tikus
tergantung pada termogenesis menggigil (Soewolo, 2000 : 336).
Pada proses termogenesis non-menggigil,
mula-mula sistem untuk metabolisme lemak diaktifkan diseluruh tubuh, sehingga
lemak dibongkardan dioksidasi untuk memproduksi panas. Pemanasan dengan
menggerakkan badan dan termogenesis menggigil adaptif, tetapi pemanasan
termogenesis menggigil bukan adaptif. Termogenesisi non-menggigiil secara
signifikan meningkatkan lingkup metabolik untuk aktivitas (Soewolo, 2000 :
338).
I.
Konsep
Suhu Letal dan Kaitan Kematian dengan Suhu Letal
Suhu letal dapat berubah-rubah sesuai
dengan suhu yang dialami hewan yang sebelumnya. Ini bersangkutan dengan
aklimasi (penyesuaian tubuh terhadap iklim atau suasana baru ditempat yang
sama, khususnya dalam laboratorium), salah satu bentuk adaptasi. Hewan yang
terbiasa hidup pada suhu relatif tinggi, mempunyai suhu letal (atas maupun
bawah) lebih tinggi bila dibandingkan dengan hewan yang terbiasa hidup pada
suhu relatif rendah (Soewolo, 2000 : 330).
Suhu letal dipengaruhi tidak hanya oleh
suhu aklimasi, tetapi juga latar belakang genetik, umur, ukuran tubuh, keadaan
haormonal, diet, dan faktor-faktor lingkungan, seperti oksigen dan salinitas.
Misalnya udang, suhu letalnya turun dengan penurunanan salinitas mediumnya dan
kadar oksigen yang lebih rendah (Soewolo, 2000 : 330).
Penyebab kematian hewan pada suhu terlalu
rendah atau terlalu tinggi belum begitu jelas. Pada umumnya hewan polikiloterm
akan mati jika dihadapkan terhadap suhu yang sangat rendah, walaupun masih di
atas titik beku air untuk hewan akuatik. Sebaliknya hewan akan mati bila
hidapkan pada suhu tinggi, meskipun masih dibawah suhu yang dapat menyebabkan
denaturasi protein. Begitu juga suhu
tubuh hewan (homeotermik dan poikilotermik) turun, makan aktivitas jantung dan
pernafasan menjadi lambat, dan hewan mungkin hipoksia. Membran sel menjadi
permeable, gradien ionik tidak adapt dijaga, dan pemompaan ion berhenti.
Pembebasan energi mungkin tidak cukup untuk memelihara fungsi-fungsi
fiosiologis. Integrasi oleh saraf pusat gagal, banyak hewan masuk ke suatu
keadaan koma, pada suhu diatas suhu letal bawah (Soewolo, 2000 : 330).
J.
Dormansi
: Tidur, Dormansi, Torpor, Hibernasi dan Estivasi
1. Dormansi
Dorman dalam kamus adalah tidak aktif
atau tidur. Istilah ini biasanya digunakan untuk tumbuhan dan hewan yang tidak
aktif pada musim-musim tertentu untuk menghindari kesulitan atau kematian
akibat suhu. Pada hewan, dormansi merupakan bentuk umum dari heterotermi
temporal, pada keadaan dorman aktivitas tubuh hewan, termasuk kecepatan
metabolik, lebih rendah dari normal, bahkan dapat sampai titik terendah
(Soewolo, 2000 : 343).
2. Tidur
Peristiwa tidur masih sangat sedikit
diketahui, meskipun sudah dipelajari secara intensif pada manusia dan mamalia
yang lain. Telah diketahui selama tidur terdapat keterlibatan fungsi otak
secara luas, terjadi penurunan suhu tubuh dan sensitifitas hipotalamik.
Terdapat bukti bahwa zat-zat yang menyebakan tidur terbentuk selama terjaga
penuh, diakumulasikan dalam cairan ekstraseluler sistem saraf pusat, namun
identitas dan pengaruh zat tersebut belu
diketahui pada hewan heteroterm, tidur dan keempat kategori dormansi
yang lain dimanifestasikan sebagai proses-proses fisiologikan perhubungan (Soewolo, 2000 : 343).
3. Torpor
Pada saat musim dingin hewan homeoterm
dihadapkan kepada masalah harus mempertahankan suhu tubuh atau membiarkan suhu
tubuhnya turun dangan berbagai konsekuensi. Pada saat torpor, suhu tubuh hewan
turun mendekati suhu udara, laju metabolik, denyut jantung, respirasi, dan
fungsi-fungsi yang lain juga turun. Semakin rendah suhu tubuh, semakin rendah
kecepatan konfersi cadangan energi menjadi panas tubuh (Soewolo, 2000 :
343-344).
4. Hibernasi
Hibernasi mengacu pada kondisi lembam
dengan laju metabolisme sangat rendah. Hibernasi berbeda dengan torpor harian,
dimana seekor hewan biasanya masuk hibernasi dengan konsekuensi penurunan suhu,
dan dengan demikian suhu tubuhnya menjadi lebih rendah (Soewolo, 2000 : 344).
Sebelum masuk ke hibernasi, hewan harus
melakukan persiapan dengan mengumpulkan cadangan energi yang berupa cadangan
lemak. Beberapa mamalia menyimpan cukup energi persedian untuk hibernasi
terutama dari ordo rodentia. Selama hibernasi pengatur suhu hipotalamik diatur
serendah 200C atau lebih rendah dari suhu normal. Pada suhu
lingkungan antara 5-150C, banyak hibernator membiarkan suhu tubuhnya
turun sampai 10C diatas lingkungan (Soewolo, 2000 : 345).
5. Estivasi
Esivasi berarti tidur musim panas, estivasi
merupakan bentuk dormansi dari beberapa spesies hewan untuk merespon lingkungan
tinggi dan bahaya dehidrasi(Soewolo, 2000 : 346).
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Termoregulasi adalah suatu mekanisme
makhluk hidup untuk mempertahankan suhu internal agar berada di dalam kisaran
yang dapat ditolelir. Proses yang terjadi pada hewan untuk mengatur suhu
tubuhnya agar tetap konstan dinamis. Sistem termoregulasi berfungsi untuk
menjaga keseimbangan energi panas yang masuk dan energi panas yang terbuang
sehingga mencapai temperatur yang mendekati konstan. Perpindahan energi termal
(panas) terjadi melalui bebrapa mekanisme, antara lain: konveksi, konduksi,
radiasi dan evaporasi.
Prinsip Termogenesis yaitu bila suhu
lingkungan turun sampai dibawah suhu kritis bawah, hewan endotermik melindungi
penurunan suhu pusat tubuhnya dengan memproduksi panas tambahan dari simpanan
energi. Produksi panas tambahan memili
dua arti yaitu termogenesis menggigil dan termogenesis non-menggigil
B. Saran
Dengan adanya makalah ini semoga
bermanfaat bagi pembaca pada umumnya, dengan adanya materi pada makalah ini
bisa menunjang pambelajaran dan diskusi didalam kelas dan penyusun makalah
mengharapkan kritik dan saran yang membangun bagi kelancaran dan kesempurnaan
penyusunan makalah berikutnya
DAFTAR PUSATAKA
Campbell, reece. 2000. Biologi
Edisi Kelima Jilid 3. Jakarta: Erlangga.
Soewolo. 2000. Pengantar Fisiologi hewan. Pendidikan
Nasional : Jakarta.
Winatasasmita. 1986. Fisiologi Hewan dan Tumbuhan.
Kurnia : Jakarta.
Nugroho. 2014. “Media Internet”
kuntarti. “Media Internet”

Saya hadir buk
ReplyDeleteSaya hadir buk -Rifara suci yulika
ReplyDeletehadir buk
ReplyDeleteHadir buk
ReplyDeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDeleteHadir buk
ReplyDeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDeleteHadir buk - Reni Mustika
ReplyDeleteHadir bukk
ReplyDeleteSaya hadir buk
ReplyDeleteSaya hadir buk
ReplyDeletehadir buk
ReplyDeleteSaya hadir buk
ReplyDeletee.w
hadir buk
ReplyDeletehadir buk
ReplyDeleteOk Nila
ReplyDeleteHadir buk
ReplyDeleteHadir buk
ReplyDelete